Situs-Situs Megalitik di Desa Padangratu
Situs-Situs Megalitik di Desa Padangratu, OKU Selatan
Jejak Peradaban dan Adaptasi Lingkungan di Kawasan Danau Ranau
Sondang Martini Siregar – Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Forum Arkeologi, Volume 30, Nomor 2, Oktober 2017, hlm. 147–158.
Desa Padangratu, Kabupaten OKU Selatan, merupakan salah satu wilayah di kawasan Danau Ranau yang menyimpan peninggalan arkeologi penting berupa situs-situs megalitik.
Peninggalan tersebut memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat masa lalu, terutama bagaimana mereka memilih tempat tinggal, memanfaatkan sumber air, mengolah lingkungan, melakukan kegiatan pertanian, serta menjalankan aktivitas kepercayaan dan ritual.
Penelitian Sondang Martini Siregar membahas hubungan antara situs-situs megalitik di Desa Padangratu dengan kondisi lingkungan fisiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pendukung tradisi megalitik telah melakukan adaptasi terhadap lingkungan dengan memilih lokasi yang dekat dengan sumber air, tanah vulkanik yang subur, serta sumber material batu untuk bangunan megalitik.
📌 Fakta Singkat
- Terdapat lima situs utama yang dibahas dalam penelitian.
- Situs berada di kawasan perbukitan Danau Ranau.
- Ketinggian lokasi sekitar 400–1.032 meter dpl.
- Ditemukan berbagai peninggalan megalitik seperti dolmen, batu datar, batu temu gelang, batu ganda dan umpak batu.
- Ditemukan pula keramik dari Cina, Thailand, Vietnam dan Eropa.
- Temuan keramik menunjukkan adanya hubungan dengan wilayah luar.
- Temuan arang dari tempayan kubur Situs Tanjung berasal dari abad ke-11 Masehi.
Desa Padangratu dan Kawasan Danau Ranau
Desa Padangratu berada di kawasan Danau Ranau. Lingkungan wilayah ini didominasi oleh perbukitan dan lembah dengan ketinggian sekitar 400–1.032 meter di atas permukaan laut.
Kawasan tersebut memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi. Kondisi geografis ini menghasilkan banyak sumber air berupa mata air dan siring yang mengalir dari kawasan perbukitan menuju Danau Ranau.
Kondisi alam tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pemilihan lokasi permukiman masyarakat masa lalu.
Lima Situs Megalitik di Desa Padangratu
Penelitian mencatat beberapa lokasi penting yang berkaitan dengan tradisi megalitik di Desa Padangratu.
Batu datar dan batu temu gelang
Dolmen, batu datar dan umpak
Batu temu gelang dan umpak
Batu ganda dan Siring Wayniti
Batu gelang, umpak dan lesung batu
1. Situs Putor
Situs Putor berbatasan dengan sebuah siring yang memanjang dari utara ke selatan dan bermuara ke Danau Ranau.
Di lokasi ini ditemukan batu datar dan batu temu gelang. Temuan tersebut berada pada ketinggian sekitar 612–825 meter dpl.
2. Situs Jurun
Jurun disebut sebagai kampung atau dusun pertama di Desa Padangratu. Di lokasi ini terdapat kolam dengan luas sekitar 1 hektare dan kedalaman sekitar 0,5–1 meter.
Di sekitar kolam dan siring Jurun ditemukan berbagai tinggalan arkeologi berupa tembikar, keramik lama, umpak batu, 2 dolmen dan 6 batu datar.
- 2 dolmen
- 6 batu datar
- Umpak batu
- Keramik dan tembikar lama
- Kolam dan siring
3. Situs Langkat
Situs Langkat berada di sebelah selatan Jurun. Wilayah ini berbatasan dengan Danau Ranau serta Dusun Putor.
Di lokasi ditemukan umpak-umpak batu, gerabah, keramik dan batu temu gelang.
Penelitian juga menemukan mata air yang sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh penduduk.
Batu Temu Gelang
Batu temu gelang merupakan batu-batu yang disusun membentuk formasi melingkar. Dalam penelitian, batu tersebut diperkirakan berkaitan dengan tempat pertemuan masyarakat atau media pemujaan kepada nenek moyang.
Di Dusun Langkat ditemukan 7 batu temu gelang.
4. Situs Bumijawa
Situs Bumijawa terletak di bagian selatan Desa Padangratu. Di lokasi ini ditemukan batu ganda di dalam kebun kopi penduduk.
Di Bumijawa juga terdapat Siring Wayniti yang mengalir dari utara ke selatan. Siring ini berpangkal di Way Kedok, kemudian mengalir menuju Siring Tanjung dan akhirnya bermuara ke Danau Ranau.
Dua batu ganda ditemukan di atas tebing Siring Wayniti. Penelitian memperkirakan bahwa pada masa lalu batu tersebut kemungkinan digunakan sebagai pagar atau pembatas kampung.
5. Situs Tanjung
Situs Tanjung berada pada ketinggian sekitar 612–825 meter dpl. Di lokasi ditemukan siring berbentuk melingkar yang dibatasi jurang dan Danau Ranau.
Temuan di Dusun Tanjung antara lain batu gelang, umpak-umpak batu dan lesung batu.
Salah satu temuan penting dari Situs Tanjung adalah tempayan kubur. Hasil pertanggalan absolut terhadap arang dari dalam tempayan kubur menunjukkan usia yang berasal dari abad ke-11 Masehi.
Siring: Jejak Sistem Air dan Akses Masa Lalu
Salah satu ciri menarik situs-situs megalitik Padangratu adalah keberadaan siring.
Siring merupakan jalur air yang mengalir di antara bukit. Di kawasan situs, beberapa siring memiliki tinggi sekitar 15–30 meter dan lebar sekitar 10–20 meter.
Pada musim kemarau sebagian siring dapat terlihat kering, tetapi mata air masih tetap keluar. Air tersebut kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Siring juga diperkirakan memiliki fungsi sebagai akses dari kawasan perbukitan menuju Danau Ranau. Berdasarkan informasi penduduk, beberapa siring dahulu digunakan sebagai jalan darat dengan menggunakan kuda untuk perjalanan antardusun dan antardesa.
Adaptasi Masyarakat terhadap Lingkungan
Keberadaan situs-situs megalitik di Padangratu menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah melakukan adaptasi terhadap lingkungan fisiknya.
① Dekat dengan sumber air
Bangunan megalitik didirikan berdekatan dengan mata air dan siring untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari serta kebutuhan religi.
② Memanfaatkan tanah vulkanik
Tanah hasil pelapukan vulkanik relatif subur sehingga mendukung kegiatan pertanian dan perkebunan.
③ Dekat sumber batu
Lingkungan sekitar Danau Ranau menyediakan batu vulkanik yang dapat dimanfaatkan sebagai material bangunan megalitik.
Jenis-Jenis Peninggalan Megalitik
| No. | Jenis Peninggalan | Lokasi |
|---|---|---|
| 1 | Batu Temu Gelang | Langkat |
| 2 | Dolmen | Jurun |
| 3 | Batu Ganda | Bumijawa |
| 4 | Umpak-Umpak Batu | Langkat dan Jurun |
| 5 | Batu Datar | Jurun |
Temuan Keramik dan Hubungan Perdagangan
Selain peninggalan batu, penelitian juga menemukan berbagai jenis keramik asing.
Keramik yang ditemukan berasal dari Cina, Thailand, Vietnam dan Eropa. Keramik Cina tertua yang ditemukan berasal dari masa Dinasti Sung sekitar abad ke-10 hingga ke-12 Masehi.
| Asal | Keterangan |
|---|---|
| Cina | Sung, Ming, Ching, Yuan |
| Thailand | Ditemukan di kawasan situs |
| Vietnam | Ditemukan di kawasan situs |
| Eropa | Temuan dari periode lebih kemudian |
Keberadaan keramik asing menunjukkan bahwa kawasan Danau Ranau telah memiliki hubungan dengan wilayah luar. Kawasan Kotabatu disebut sebagai salah satu tempat berkumpulnya pedagang dari berbagai arah.
Tradisi Megalitik dan Kepercayaan Leluhur
Tradisi megalitik tidak hanya berkaitan dengan penggunaan batu berukuran besar, tetapi juga memiliki hubungan dengan sistem kepercayaan masyarakat terhadap kehidupan setelah kematian.
Bangunan seperti dolmen, batu datar, batu temu gelang dan lesung batu berkaitan dengan aktivitas ritual dan penghormatan kepada nenek moyang.
Lesung batu juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari, seperti menumbuk biji-bijian, bahan masakan dan obat-obatan. Dalam kegiatan ritual, lesung batu dapat digunakan sebagai tempat menaruh sesaji.
Kesimpulan
Situs-situs megalitik di Desa Padangratu menunjukkan hubungan yang erat antara manusia, budaya dan lingkungan.
Masyarakat masa lalu memilih lokasi permukiman dan tempat pendirian bangunan megalitik dengan mempertimbangkan keberadaan sumber air, kondisi tanah, kesuburan lahan dan ketersediaan batu vulkanik.
Lima situs yang menjadi bagian penting dari penelitian adalah Putor, Jurun, Langkat, Bumijawa dan Tanjung. Masing-masing menyimpan tinggalan yang memperlihatkan kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan Danau Ranau.
Peninggalan tersebut bukan sekadar batu-batu tua. Di baliknya terdapat jejak kehidupan masyarakat yang telah memiliki sistem permukiman, pertanian, pemanfaatan sumber air, aktivitas ritual, pertahanan serta hubungan perdagangan dengan wilayah luar.
Karena itu, kawasan Padangratu memiliki nilai penting dalam memahami sejarah dan perkembangan budaya masyarakat di kawasan Danau Ranau dan Sumatera Selatan.
📚 Sumber
Artikel ini disusun berdasarkan penelitian mengenai situs-situs megalitik di Desa Padangratu, Kabupaten OKU Selatan, sebagai bagian dari sejarah dan warisan budaya kawasan Danau Ranau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar