PRAHARA DI TANAH RANAU
NEGERI DI BAWAH BAYANGAN PESAGI
Pada masa ketika jalan belum membelah hutan dan kabar dari satu lembah ke lembah lain harus dibawa oleh kaki manusia, Tanah Ranau hidup di antara air, rimba, dan gunung. Danau membentang seperti cermin tua yang menyimpan langit; di kejauhan, Gunung Pesagi berdiri tegak, seolah menjadi saksi bagi setiap sumpah yang diucapkan manusia di bawahnya.
Di sekitar Ranau, nama Padang Ratu dikenang sebagai pusat kuasa lama. Di sana, keputusan tidak hanya menyangkut tanah dan hasil ladang, melainkan juga martabat keluarga, hak memimpin, dan kewajiban menjaga warisan leluhur. Bagi sebagian orang, tatanan itu adalah pagar yang melindungi adat. Bagi yang lain, pagar yang sama terasa seperti dinding yang menghalangi mereka untuk naik ke tempat yang dianggap layak.
Cerita tentang masa itu diwariskan dari mulut ke mulut. Tidak semua penutur menyebut nama, urutan, atau sebab dengan cara yang sama. Ada bagian yang terang, ada yang hanya berupa bayang-bayang. Namun, satu hal terus bertahan dalam ingatan: perebutan kuasa di Tanah Ranau bukan semata pertarungan siapa yang lebih kuat. Ia adalah pertarungan tentang siapa yang berhak menentukan aturan, siapa yang harus tunduk, dan apa yang harus dikorbankan demi sebuah tatanan baru.
Di bawah bayang-bayang Pesagi, dua garis keluarga kelak akan berpisah jalan. Dari perpisahan itu lahir pengasingan, permusuhan, penaklukan, dan sumpah yang menyeberangi generasi. Dan ketika keturunan mereka kembali bertemu di medan perang, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah takhta, melainkan ingatan tentang tanah asal.
DUA SAUDARA, DUA WILAYAH
Khakian Muwak, sang kakak, memimpin dari Padang Ratu sebuah wilayah di tepi danau Ranau hingga dua hari perjalanan kuda ke arah utara, barat, dan timur. Di tempat itulah orang-orang datang membawa perkara, menyampaikan hasil panen, meminta keputusan, dan menghadap ketika perselisihan antarkeluarga tidak lagi dapat diselesaikan di halaman rumah. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa kedudukan pemimpin bukan hadiah yang bisa dipindahkan sesuka hati. Ia adalah amanah yang diwariskan bersama kewajiban menjaga garis keturunan dan adat.
Adiknya, Khakian Sangkan, memegang kuasa di lereng Gunung Pesagi hingga akhir batas wilayah. Wilayahnya berbeda watak: jalan menanjak, kebun tersebar di punggung bukit, dan kabar dari satu dusun sering tiba setelah matahari condong ke barat. Hubungan kedua saudara itu tidak selalu buruk. Mereka masih terikat darah dan ingatan masa kecil, tetapi masing-masing telah memiliki wilayah, pengikut, serta cara sendiri untuk memandang kekuasaan.
Pada suatu pertemuan, Khakian Muwak berdiri di beranda rumah pertemuan, menatap orang-orang yang menunggu keputusan. Khakian Sangkan duduk di sisinya. Di hadapan mereka, para kepala jungku berbicara bergantian tentang batas kebun, air, dan hak membuka lahan. Bagi orang luar, pertemuan itu mungkin tampak biasa. Namun, di balik kata-kata yang tertib, tersimpan pertanyaan yang belum berani diucapkan: apakah kuasa harus tetap mengikuti garis keturunan, atau dapat diraih oleh orang yang memiliki dukungan dan kemampuan?
“Adat bukan tali untuk mengikat leher rakyat,” kata salah seorang kepala jungku, berhati-hati memilih kata. “Adat seharusnya menjadi jalan agar semua orang tahu tempatnya.”
Khakian Muwak menatapnya lama. “Jalan tanpa batas dapat membuat orang tersesat. Jika setiap orang dapat menuntut kedudukan, siapa yang akan menjamin keputusan tetap tegak?”
“Dan bila batas itu tidak memberi ruang bagi orang yang mampu?” balas kepala itu. “Apa yang harus mereka lakukan selain menunggu?”
Khakian Sangkan tidak menyela. Ia melihat sesuatu yang lebih besar daripada perselisihan hari itu: ketidakpuasan yang selama ini berdiam di bawah permukaan, menunggu satu alasan untuk bangkit.
SEMBILAN KEPALA JUNGKU
Di wilayah utara, Khakian Kubang menjadi pemimpin yang didengar oleh banyak kepala jungku. Ia bukan sekadar pengumpul keluhan. Ia tahu bahwa ketidakpuasan yang tercerai-berai tidak akan mengguncang Padang Ratu. Karena itu, ia mengundang para pemimpin yang sejalan dengannya, satu demi satu, hingga sembilan kepala jungku berdiri dalam satu ikatan.
Mereka menghendaki perubahan menuju sistem Pepadun—tatanan yang dalam ingatan mereka membuka peluang lebih luas bagi seseorang untuk memperoleh kedudukan berdasarkan kemampuan, dukungan, dan pengakuan, bukan semata-mata garis keturunan. Bagi pendukungnya, perubahan itu adalah pintu. Bagi pihak Padang Ratu, ia tampak seperti retakan pada fondasi beradat.
Pertemuan mereka berlangsung jauh dari pusat kuasa. Api kecil menyala di tengah lingkaran, sementara angin malam menyusup di antara batang-batang kayu. Tidak ada yang berbicara lantang. Mereka tahu bahwa keputusan yang dibuat malam itu dapat menelan banyak nyawa.
“Jika kita terus menunggu, anak-anak kita akan mewarisi tempat yang sama, sekalipun mereka mampu melampauinya,” ujar seorang kepala jungku.
Khakian Kubang mengangguk. “Kita tidak dapat meminta perubahan dengan kata-kata saja bila pintu sudah berkali-kali ditutup.”
“Lalu kita mengambilnya dengan senjata?” tanya yang lain. “Darah kita sendiri akan mengalir.”
“Darah telah mengalir juga,” jawab Khakian Kubang, “hanya saja selama ini ia mengalir diam-diam—dalam penghinaan, dalam hak yang ditolak, dalam keputusan yang tidak memberi jalan. Aku tidak menjanjikan perang tanpa korban. Aku hanya bertanya: apakah keadaan sekarang masih dapat kita terima?”
Tidak semua orang menjawab. Namun, satu demi satu mereka meletakkan tangan ke tengah lingkaran. Bukan karena mereka tidak takut, melainkan karena ketakutan mereka telah menemukan arah.
RUNTUHNYA PADANG RATU
Ketika pasukan persekutuan bergerak menuju Padang Ratu, kabar lebih dahulu tiba daripada debu langkah mereka. Penjaga di jalur masuk melihat gerakan orang dari utara, lalu berlari menyampaikan berita. Genderang tanda bahaya dipukul. Orang-orang yang semula bekerja di ladang bergegas pulang; para lelaki mengambil senjata, sementara keluarga-keluarga mengumpulkan barang yang dapat dibawa.
Khakian Muwak berdiri di halaman pusat kuasa. Ia tidak menyangka perselisihan yang lama ditahan akan berubah menjadi serangan terbuka. Di hadapannya, para pengikut menunggu perintah. Sebagian ingin bertahan sampai akhir. Sebagian lain menyarankan agar keluarga-keluarga lebih dahulu diselamatkan.
“Kita tidak sedang mempertahankan dinding rumah,” kata Khakian Muwak. “Kita mempertahankan hak agar keputusan tidak ditentukan oleh ancaman.”
Seorang punggawo tua menjawab, “Benar, pun Rakian. Tetapi hak itu tidak akan berarti bila semua orang yang menjaganya mati hari ini.”
Benturan pertama terjadi di jalur menuju pusat permukiman. Pasukan Padang Ratu berusaha menahan laju lawan, memanfaatkan jalan sempit dan pengetahuan atas tanah. Namun, jumlah dan tekad persekutuan sembilan kepala jungku membuat garis pertahanan terdesak. Pertempuran tidak berlangsung seperti satu ayunan pedang yang menentukan segalanya. Ia pecah menjadi banyak bentrokan: di tepi jalan, di halaman rumah, di dekat lumbung, dan di antara pepohonan yang menghalangi pandangan.
Teriakan perintah bercampur dengan suara kayu patah dan langkah yang berlari. Orang-orang jatuh bukan sebagai nama dalam cerita, melainkan sebagai ayah, saudara, dan kawan seperjalanan. Beberapa rumah terbakar. Asap menggantung di atas Padang Ratu, membuat mata pedih dan napas berat.
Khakian Muwak berusaha mengumpulkan sisa pasukannya. Tetapi ketika satu sisi pertahanan terbuka, barisan lain mulai goyah. Para pembawa pesan datang dengan kabar yang saling menyusul: jalur timur terdesak, halaman depan tidak dapat dipertahankan, dan keluarga-keluarga harus segera dibawa keluar.
Menjelang akhir pertempuran, Padang Ratu jatuh ke tangan persekutuan Khakian Kubang. Kemenangan itu tidak datang dengan sorak yang bersih. Di antara para pemenang ada yang kehilangan saudara; di antara pihak yang kalah, orang-orang mencari anggota keluarga di tengah asap. Kuasa berpindah tangan, tetapi tanah itu menyimpan jejak luka dari kedua belah pihak. satu satunya jalan adalah menyelinap dari ketinggian, menuju jalan rahasia di bagian timur istana dengan beberapa pengawal dan keluarganya mereka menuju lorong gelap dengan penerangan obor pelepah kelapa mereka menyusuri lorong yg gelap yg menurun curam, lorong itu menuju sebuah sudut dari teluk danau Ranau yg tersembunyi di antara tebing tebing terjal, dan bebatuan besar. ketika mereka keluar dari lorong tampak beberapa perahu menunggu, “ silahkan pun “ seorang pengawal mereka begitu sigap, dalam temaram matahari yg baru mau terbit mereka mendayung perahu menuju arah Gunung Seminung yg terdiam bias menyaksikan perselisihan para manusia. satu tujuan Khakian Muwak dia harus menuju tempat aman untuk meminta bantuan. Dan mempertimbangkan untuk membalas dendam..
JALAN PENGASINGAN
Khakian Muwak meninggalkan Padang Ratu bersama orang-orang yang masih setia. Mereka bergerak menuju menyebrang danau hingga mencapai kaki Gunung Seminung itu adalah jalan teraman menuju lereng Gunung Pesagi, tempat adiknya berkuasa, membawa barang seadanya dan menyimpan duka yang tidak mudah diucapkan. Ada yang menoleh berkali-kali ke arah tanah yang ditinggalkan. Ada pula yang menolak menoleh karena takut tidak sanggup meneruskan langkah.
Di perjalanan, seorang pemuda bertanya, “Apakah kita akan kembali, Ya pun Rakian?”
Khakian Muwak tidak segera menjawab. Ia melihat jalan di hadapan mereka—licin, menurun, dan belum tentu aman. “Aku tidak tahu kapan,” katanya akhirnya. “Tetapi orang yang kehilangan rumah tidak boleh kehilangan ingatan tentang di mana rumahnya berdiri.”
Khakian Sangkan, adiknya yang memimpin di lereng Pesagi. Pertemuan mereka berlangsung dalam suasana berat. Khakian Sangkan mendengar seluruh kisah pengusiran tanpa memotong satu kata pun. Setelah lama terdiam, ia berkata bahwa ia tidak akan mengirim pasukan untuk membuka perang baru.
“Kau membiarkan mereka merampas tanah kita,” ujar Khakian Muwak, suaranya tertahan.
“Aku tidak membiarkan,” jawab Khakian Sangkan. “Aku menolak mengirim orang-orangku ke perang yang mungkin menghabiskan kedua garis keluarga kita. Bila aku bergerak, lereng Pesagi ikut terbakar. Lalu siapa yang tersisa untuk menjaga keturunan kita?”
“Dan siapa yang menjaga kehormatan kita?”
Khakian Sangkan menunduk. Ia tidak memiliki jawaban yang dapat menyembuhkan luka kakaknya. Malam itu, dua saudara berpisah dengan beban yang berbeda: satu merasa ditinggalkan, satu merasa memilih jalan paling pahit demi mencegah kehancuran yang lebih luas.
Dalam tradisi yang diwariskan, sumpah pun tumbuh dari masa pengasingan itu: Ranau tidak boleh dilupakan. Bukan sekadar nama tempat, melainkan tanah leluhur yang pernah menjadi pusat kehidupan mereka. “Di Batu Bekhak, tanah kosong, di sanalah tempat kita akan memulai semuanya, Kanda.” demikian kata kata dari Khakian Sangkan, sejak itu Di Batu Bekhak, mereka membangun kehidupan dari sisa yang ada. Rumah-rumah didirikan, ladang dibuka, dan aturan baru harus disusun untuk orang-orang yang datang dengan luka berbeda. Khakian Muwak tetap dihormati, tetapi ia tahu bahwa penghormatan tidak sama dengan kekuasaan. Setiap malam, ketika suara kampung mereda, ingatannya kembali ke Padang Ratu. Di situ pula dia membangun tempat-tempat persembahan dan peralatan ibadah seperti di Padang Ratu tempat leluhurnya
WARISAN YANG TERPISAH
Waktu bergerak, dan manusia yang menyaksikan jatuhnya Padang Ratu akhirnya menjadi orang-orang tua yang kisahnya didengar anak-anak. Di Batu Bekhak, garis keturunan Khakian Muwak berlanjut. Dari garis itu, nama Kenui Sakti kelak muncul sebagai penguasa Batu Brak. Sementara itu, keturunan Khakian Sangkan meneruskan kedudukan di sekitar Pesagi, hingga lahir Ratu Halimawong, tokoh yang namanya sangat disegani, seorang ratu penunggang harimau, terkenal bijak dan adil, dan sangat taat dengan kepercayaan leluhur. Generasi yang lahir kemudian tidak selalu menyaksikan sendiri pertikaian para leluhur. Mereka mengenalnya melalui cerita di beranda, melalui nasihat orang tua, dan melalui tempat-tempat yang disebut dengan nada khusus. Namun, warisan tidak harus berupa benda. Kadang-kadang ia berupa kebanggaan. Kadang-kadang berupa rasa tersinggung yang tak pernah sempat diselesaikan.
Bagi keturunan Khakian Muwak, Padang Ratu adalah tanah yang hilang. Bagi pihak yang memegang kuasa setelah Khakian Kubang, kemenangan itu menjadi dasar bagi tatanan baru. Bagi keturunan Khakian Sangkan, warisan Pesagi menuntut mereka menjaga martabat wilayahnya sendiri. Masing-masing memiliki alasan yang dapat dimengerti dari dalam, dan masing-masing menyimpan sisi yang sulit diterima pihak lain.
Di antara mereka, Ranau tetap menjadi pusat ingatan—tempat yang tidak pernah benar-benar jauh, bahkan ketika kaki mereka hidup di wilayah lain.
RATU HALIMAWONG DAN HARIMAU
Nama Ratu Halimawong menyebar sebagai nama seorang pemimpin yang kuat dan sukar ditundukkan. Dalam tradisi lisan, ia dikisahkan memiliki hubungan istimewa dengan harimau Sumatra, bahkan disebut menungganginya. Kisah itu hidup di antara kekaguman dan lambang: harimau menjadi gambaran keberanian, kewibawaan, dan kedekatan sang ratu dengan rimba yang mengitari wilayahnya.
Tidak semua orang memaknai kisah itu sebagai kejadian harfiah. Namun, bagi rakyat yang mendengar namanya disebut, gambaran harimau cukup untuk menjelaskan bagaimana mereka memandang sang ratu: seseorang yang tidak mudah diburu, tidak mudah digertak, dan memahami jalur-jalur hutan sebagaimana orang lain memahami halaman rumahnya.
Wilayah yang dipimpinnya memelihara kepercayaan leluhur, dengan pengaruh Hindu dalam tata ritual dan pandangan hidup yang diwariskan. Upacara, pantangan, dan penghormatan kepada tempat-tempat tertentu bukan sekadar kebiasaan. Semua itu membentuk cara masyarakat memahami hubungan manusia, alam, dan para pendahulu.
Seorang tetua pernah berkata kepadanya, “Ratu, orang yang memimpin tidak hanya menjaga batas tanah. Ia juga menjaga makna yang membuat orang-orang bersedia tinggal di dalam batas itu.”
Ratu Halimawong memandang lembah yang diselimuti kabut. “Selama makna itu tidak menjadikan rakyat saling memburu, aku akan menjaganya.”
Namun, di luar wilayahnya, perubahan sedang bergerak. Kabar baru melintasi jalur dagang dan hubungan pesisir. Bersama kabar itu datang keyakinan baru—dan, seperti sering terjadi dalam sejarah, keyakinan itu tidak datang sendirian. Ia datang bersama jaringan kekuasaan, hubungan antarpemimpin, dan pertanyaan tentang siapa yang akan menentukan masa depan.
KABAR DARI PESISIR
Di Batu Brak, Kenui Sakti mendengar kabar tentang Islam melalui hubungan dengan wilayah pesisir. Nama Hanibung disebut dalam jalur penyampaian kabar itu. Mula-mula berita tersebut datang sebagai cerita tentang orang-orang yang beribadah dengan cara berbeda, tentang ajaran yang menekankan ketundukan kepada Tuhan Yang Esa, dan tentang jaringan saudagar serta pemimpin yang menghubungkan tempat-tempat jauh.
Kenui Sakti tidak menerima perubahan itu sebagai perkara ringan. Ia bertanya, mendengar, dan menimbang. Baginya, keputusan seorang pemimpin dapat mengubah kehidupan keluarga-keluarga yang berada di bawah perlindungannya. Ia kemudian memeluk Islam, sebuah keputusan yang dalam cerita ini menjadi titik penting bagi perjalanan dirinya dan garis keturunannya.
Seusai menerima ajaran itu, ia memanggil orang-orang kepercayaannya. “Aku tidak akan memaksa orang hanya karena aku telah memilih,” katanya. “Tetapi aku juga tidak akan menyembunyikan apa yang kini kuanggap benar. Kita harus berbicara dengan para pemimpin di sekitar kita, bukan dengan ancaman, melainkan dengan terang.”
Ia mengutus orang untuk menyampaikan undangan kepada Ratu Halimawong. Utusan itu membawa pesan agar sang ratu mempertimbangkan Islam. Namun, di balik pesan keagamaan, tersimpan juga harapan politik: jika dua pemimpin besar berada dalam ikatan yang sama, hubungan mereka dapat berubah dan peta kuasa di kawasan itu pun bergeser.
Utusan tersebut diterima dengan kehormatan yang sesuai bagi seorang pembawa pesan. Ratu Halimawong mendengar sampai selesai. Ia tidak memotong kata-kata, tetapi wajahnya tidak berubah.
“Sampaikan kepada sepupuku Kenui Sakti,” katanya, “aku menghormati haknya menentukan jalan hidupnya. Namun, aku tidak dapat meninggalkan begitu saja adat dan kepercayaan yang diwariskan kepada rakyatku. Jika aku berubah hanya karena tekanan dari luar, apa yang akan mereka pahami tentang tanggung jawab seorang pemimpin?”
Penolakan itu tidak serta-merta menjadikan kedua pihak musuh. Akan tetapi, sejak hari itu, jarak di antara mereka bertambah. Perbedaan keyakinan bertemu dengan pertimbangan tentang wilayah, pengaruh, dan kedaulatan. Hal yang semula mungkin dapat dibicarakan sebagai urusan batin perlahan menjadi perkara politik.
EMPAT PAKSI
Kenui Sakti memahami bahwa pengaruhnya tidak cukup untuk mengubah keadaan seorang diri. Ia menjalin persekutuan dengan tiga pemimpin lain: Hanuang Mapas, Tenom Pulan, dan Liman Sekelik. Mereka dikenal sebagai Empat Paksi. Ikatan itu bukan hanya persamaan kepentingan, tetapi juga perjanjian untuk saling menopang ketika satu wilayah menghadapi ancaman.
Mereka bertemu di sebuah tempat yang cukup jauh dari pusat permukiman. Tidak ada kemegahan dalam pertemuan itu. Para pengawal berjaga di luar, sementara para pemimpin duduk berhadapan, masing-masing membawa pertimbangan tentang wilayah dan rakyatnya.
“Kita tidak dapat membiarkan setiap perselisihan menjadi perang,” kata Tenom Pulan. “Tetapi kita juga tidak bisa berpura-pura bahwa ketegangan ini akan hilang dengan sendirinya.”
Liman Sekelik, yang dikenal tegas dalam urusan pasukan, menyandarkan kedua tangan di lutut. “Jika perang datang, kita harus tahu apa yang hendak dicapai. Pasukan yang bergerak tanpa tujuan hanya akan menambah kuburan.”
Hanuang Mapas menambahkan, “Kita perlu melemahkan pertahanan lawan sebelum mengirim orang ke garis depan. Kemenangan bukan selalu soal siapa yang paling keras menyerbu.”
Kenui Sakti mendengarkan. Ia tahu bahwa persekutuan dapat memperbesar kekuatan, tetapi juga memperbesar risiko. Setiap pemimpin memiliki kepentingan sendiri. Bila tujuan mereka tidak dijelaskan sejak awal, kemenangan pun dapat menjadi awal pertikaian baru.
Di tengah perubahan ini, Ratu Wewah—lawan Ratu Halimawong yang berada di sisi lain Gunung Pesagi—memilih membantu Empat Paksi. Keputusan itu mengubah keseimbangan. Pertikaian yang semula bertumpu pada hubungan Kenui Sakti dan Ratu Halimawong kini memperoleh jalur baru. Musuh lama sang ratu menjadi sekutu bagi pihak yang hendak menundukkannya.
Ratu Halimawong menerima kabar tentang persekutuan itu tanpa menunjukkan kepanikan di hadapan para pengikutnya. Namun, ia memahami bahwa ia tidak lagi menghadapi satu pihak. Ia menghadapi gabungan kekuatan, dengan pengetahuan medan yang berbeda-beda dan kepentingan yang tidak seluruhnya sama.
PERTAHANAN RATU HALIMAWONG
Di wilayah Ratu Halimawong, persiapan perang berlangsung tanpa mengubah setiap rumah menjadi barak. Para petani tetap harus menjaga ladang, orang-orang tua tetap harus mengurus keluarga, dan anak-anak tetap membutuhkan makanan. Justru itulah beban pemimpin: perang datang, tetapi kehidupan tidak dapat dihentikan sepenuhnya untuk menyambutnya.
Sang ratu memanggil para kepala jungku sebagai tombak terdepan pasukannya setempat. Ia meminta mereka mengawasi jalur masuk, menjaga persediaan, dan memastikan keluarga yang tinggal dekat daerah rawan mengetahui tempat berlindung. Ia tidak menganggap keberanian sebagai alasan untuk mengabaikan persiapan.
“Kita mengenal hutan di sekeliling kita,” katanya. “Jangan biarkan pengetahuan itu berubah menjadi kesombongan. Lawan yang datang bersama sekutu akan belajar dari setiap kekalahan. Kita harus berpikir, bukan hanya berani.”
Seorang pemimpin muda menyela, “Jika mereka datang membawa agama baru, apakah kita harus memerangi agama itu?”
Ratu Halimawong memandangnya tajam. “Kita tidak mengangkat senjata untuk mengejar keyakinan di dalam dada orang. Kita menghadapi pasukan yang hendak mengubah kuasa di wilayah kita. Jangan campuradukkan semua perkara sampai kita lupa apa yang sedang dipertahankan.”
Jawaban itu tidak menghapus kenyataan bahwa penolakan terhadap ajakan Kenui Sakti telah menjadi bagian dari ketegangan. Namun, bagi sang ratu, akar konflik tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu sebab. Di dalamnya terdapat adat, kehormatan, wilayah, hubungan antarpemimpin, serta kekhawatiran bahwa perubahan akan dipaksakan dengan kekuatan.
Di malam-malam menjelang bentrokan, api dijaga tetap kecil. Para penjaga bergantian menyusuri batas. Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Mereka tahu bahwa ketika perang tiba, tidak semua orang akan pulang.
KEKALAHAN SANG RATU
Ketika pasukan Empat Paksi bergerak dengan bantuan Ratu Wewah, pertahanan Ratu Halimawong menghadapi tekanan dari lebih dari satu arah. Jalur-jalur yang selama ini memberi keuntungan bagi pasukan setempat mulai menjadi perangkap ketika lawan mampu mengalihkan perhatian dan memaksa para penjaga berpindah tempat.
Pertempuran berlangsung keras. Tidak ada satu gerakan ajaib yang langsung mengakhiri perlawanan. Barisan bertemu, mundur, lalu bertemu kembali. Para pembawa pesan berlari membawa kabar yang belum tentu lengkap. Di satu tempat, pertahanan berhasil menahan serangan; di tempat lain, celah terbuka sebelum bala bantuan tiba.
Liman Sekelik memimpin pasukan yang menekan garis pertahanan. Tenom Pulan menopang barisan agar tidak terputus. Hanuang Mapas mengarahkan siasat untuk membuat pertahanan lawan kehilangan keseimbangan. Kenui Sakti berada di antara pertimbangan strategis dan beban moral atas keputusan yang telah ia ambil.
Ratu Halimawong tetap berusaha mengumpulkan pengikutnya. Namun, ketika jalur-jalur penting dikuasai lawan dan dukungan Ratu Wewah mempersempit ruang gerak, perlawanan tidak lagi mampu mempertahankan wilayah sebagaimana sebelumnya. hingga wanita perkasa itu harus gugur dengan kebanggaan. Setelah Ratu Halimawong gugur, barulah perang berhenti, dan rakyat Ratu Halimawong hanya memiliki dua pilihan: mengikuti agama baru atau pergi meninggalkan daerah Gunung Pesagi. Ada pula yang tetap melawan dengan segala risiko, sebagian pergi menghilang ke arah selatan menuju Kerui, dan ada yang terus melawan hingga gugur. Namun, tidak sedikit juga yang menyerah, bersumpah akan menaati pemerintah baru, dan mempertimbangkan untuk masuk ke keyakinan baru.
Kekalahan itu mengubah peta kuasa. Wilayah Ratu Halimawong dibagi di antara empat Paksi. Pembagian tersebut memberi para pemenang kendali atas tanah dan penduduk, tetapi tidak serta-merta menghapus ingatan orang-orang yang kehilangan pemimpin dan tatanan lama.
Di antara para pemenang, ada yang menyebut kemenangan itu sebagai akhir ancaman. Kenui Sakti tidak sepenuhnya merasakan kelegaan yang sama. Ia melihat wilayah yang dikuasai, tetapi juga melihat bahwa kekuatan yang dipakai untuk mengakhiri satu perlawanan telah meninggalkan pertanyaan baru: berapa lama orang-orang yang kalah akan menerima keadaan itu?
Malam setelah kemenangan, ia mendengar suara angin menyusuri pepohonan. Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, ia tidak merasa bahwa kemenangan telah mendekatkannya pada ketenangan.
MIMPI TENTANG PUYANG
Pada suatu malam, ketika tubuhnya lelah dan pikirannya belum berhenti bekerja, Kenui Sakti tertidur. Dalam tidurnya, ia melihat sosok puyang—leluhur yang selama ini hadir dalam kisah keluarga dan sumpah yang diwariskan dari Batu Bekhak.
Sosok itu tidak datang membawa pasukan. Ia berdiri seperti seseorang yang telah lama menunggu di ambang pintu. Wajahnya tidak jelas, tetapi suaranya tegas.
“Engkau telah berjalan jauh,” kata sosok itu. “Namun, apakah engkau ingat tanah yang membuat namamu memiliki akar?”
Kenui Sakti mencoba menjawab, tetapi kata-katanya tertahan. Dalam mimpinya, ia melihat Padang Ratu wilayah yang selalu diceritakan para pendahulunya, jalan pengasingan, dan wajah orang-orang yang meninggalkan tanah itu tanpa tahu apakah mereka akan kembali. Ia teringat sumpah yang dibawa keturunan Khakian Muwak: jangan melupakan Ranau.
“Aku tidak melupakannya,” jawabnya.
“Mengingat bukan hanya menyebut nama,” kata puyang itu. “Mengingat berarti memutuskan apa yang akan engkau lakukan terhadap warisan itu. Tetapi berhati-hatilah: orang yang mengaku membela leluhur dapat menjadi penindas baru bila ia lupa pada manusia yang hidup hari ini.”
Kenui Sakti terbangun sebelum fajar. Ia duduk lama dalam gelap. Ia tidak tahu apakah mimpi itu pertanda, suara hati, atau ingatan yang kembali dengan wajah leluhur. Namun, ia tahu bahwa Ranau tidak lagi dapat diperlakukan sebagai kisah yang hanya diceritakan di antara orang-orang tua.
Ketika ia memanggil para sekutunya, ia membawa satu gagasan yang lebih besar daripada perluasan wilayah: kembali ke Ranau, tempat keturunan Khakian Kubang kini memegang kuasa dan lembaga Pepadun telah mengakar.
SUMPAH KEMBALI KE RANAU
Rencana kembali ke Ranau tidak lahir dari satu kalimat. Ia tumbuh melalui perundingan panjang, penilaian atas jalur, pertimbangan persediaan, dan pembicaraan tentang kemungkinan perlawanan. Para pemimpin Empat Paksi memahami bahwa serangan ke wilayah yang memiliki sejarah kemenangan sendiri tidak akan mudah. Di sana, para penguasa baru memiliki alasan untuk bertahan, sementara para pendukung lama tidak akan menyerahkan kedudukan tanpa perlawanan.
Dalam pertemuan itu, Kenui Sakti menyebut Padang Ratu dan nama Khakian Muwak. Ia tidak menutup-nutupi bahwa di balik rencana tersebut ada warisan pengusiran dan sumpah keluarga.
“Kita harus jujur,” kata Tenom Pulan. “Apakah kita kembali untuk memulihkan hak, atau untuk membalas luka?”
Kenui Sakti menjawab setelah lama diam. “Keduanya mungkin telah bercampur dalam diri kita. Aku tidak akan berpura-pura bahwa masa lalu tidak melukai keluargaku. Tetapi bila kita hanya mengejar pembalasan, kita akan menjadi tawanan dari peristiwa yang telah lama berlalu.”
Hanuang Mapas menyilangkan tangan. “Apa tujuan yang dapat kita sepakati?”
“Mengambil alih pusat kuasa dan membentuk tatanan baru,” ujar Kenui Sakti. “Tetapi setelah menang, kita harus menentukan bagaimana orang-orang yang kalah akan hidup. Jika tidak, perang hanya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.”
Liman Sekelik mengangguk perlahan. “Maka sejak awal kita harus tahu kapan serangan berhenti. Pasukan dapat diperintah untuk maju. Lebih sulit memerintah mereka untuk berhenti setelah menang.”
Mereka sepakat mempersiapkan perjalanan menuju Ranau. Dalam tradisi yang dikenang, perang besar yang menyusul disebut Guntokh di Bulan Bakha. Nama itu kelak melekat pada kisah tentang kembalinya para Paksi ke tanah leluhur dan perubahan besar yang terjadi sesudahnya.
KAYU HAKHA DAN TANDA-TANDA PERANG
Di Ranau, Kayu Hakha dihormati oleh sebagian masyarakat sebagai pohon yang memiliki makna khusus. Ia bukan sekadar batang dan daun. Dalam ingatan orang-orang tertentu, pohon itu berkaitan dengan kepercayaan lama, tempat berkumpul, dan hubungan dengan leluhur. Bagi pihak yang datang membawa tatanan baru, simbol semacam itu dapat terlihat sebagai tanda dari masa yang hendak ditinggalkan.
Ketika kabar tentang pergerakan Paksi Pak menyebar, orang-orang di sekitar Kayu Hakha mulai bertanya apa yang akan terjadi pada pohon itu bila perang berakhir dengan kemenangan pihak pendatang. Sebagian menganggap pertanyaan itu tidak penting dibandingkan keselamatan kampung. Sebagian lain justru merasa bahwa nasib pohon tersebut akan menunjukkan apakah tatanan baru memberi ruang bagi ingatan lama.
Seorang tetua berkata kepada keluarganya, “Pohon dapat ditebang. Tetapi makna yang disimpan manusia tidak selalu tumbang bersama batangnya.”
Di sisi lain, para pemimpin pertahanan Ranau menyiapkan pasukan. Mereka tahu bahwa Paksi Pak tidak datang sebagai rombongan kecil. Persekutuan itu memiliki pengalaman perang, hubungan antarpemimpin, dan tujuan yang telah dibicarakan sejak jauh hari. Kabar mengenai jatuhnya wilayah Ratu Halimawong membuat ancaman itu terasa nyata.
GUNTOKH Bulan Bakha mendekat. Di jalan-jalan, orang membawa hasil panen ke tempat yang lebih aman. Para penjaga memeriksa jalur masuk. Rumah-rumah yang berada di daerah rawan mulai dikosongkan, sementara sebagian penduduk memilih bertahan karena tidak ingin meninggalkan tanah mereka.
Perang belum dimulai, tetapi kehidupan sehari-hari sudah berubah. Orang berbicara lebih pelan. Setiap suara dari kejauhan membuat kepala menoleh. Dan di antara ketakutan itu, ada pula keyakinan bahwa tanah yang diwarisi tidak boleh diserahkan begitu saja.
GUNTOKH BULAN BAKHA
Ketika pasukan Paksi Pak bergerak memasuki kawasan Ranau, benturan besar pun tak terhindarkan. Pertahanan yang berakar pada tatanan Pepadun berusaha menahan mereka. Bagi pihak yang mempertahankan Ranau, ini bukan sekadar perang melawan pasukan dari luar. Mereka sedang menjaga kekuasaan yang telah menjadi kenyataan selama beberapa generasi. Mereka pun memiliki keluarga, alasan, dan rasa takut kehilangan.
Liman Sekelik memimpin kekuatan yang bertugas membuka jalan melalui pertahanan. Ia tidak membiarkan pasukannya menyerbu tanpa membaca keadaan. Ia memperhatikan jalur, jarak antarkelompok, dan tanda-tanda bahwa lawan sedang memindahkan kekuatan. Ketika celah terlihat, ia mengarahkan pasukan untuk menekan, tetapi tetap menjaga agar barisan tidak tercerai.
Tenom Pulan menopang pertahanan di sisi yang membutuhkan dukungan. Tugasnya bukan selalu menjadi orang pertama yang terlihat. Ia memastikan pasukan yang terdesak tidak berubah menjadi kelompok-kelompok kecil tanpa komando. Dalam perang, barisan yang tetap terhubung sering kali lebih berharga daripada keberanian satu orang.
Hanuang Mapas menjalankan siasat untuk melemahkan pertahanan. Ia mencari titik yang membuat lawan harus memilih: menjaga jalur utama atau melindungi sisi yang terancam. Setiap pilihan memaksa mereka membuka ruang di tempat lain. Siasat itu tidak menjadikan kemenangan mudah, tetapi perlahan mengurangi kemampuan pertahanan untuk bergerak sebagai satu kesatuan.
Kenui Sakti memikirkan keseluruhan medan. Ia menerima laporan yang tidak selalu sejalan. Ada kabar bahwa satu jalur telah terbuka, sementara laporan lain menyebut pasukan lawan masih bertahan. Ia harus menentukan mana yang dapat dipercaya, kapan mengirim bantuan, dan kapan menahan kekuatan agar tidak terjebak dalam pengejaran.
Pertempuran berlangsung dalam gelombang. Di beberapa tempat, pasukan Ranau berhasil memukul mundur penyerang. Mereka mengenal medan dan memanfaatkan setiap jalur yang memberi keuntungan. Namun, ketika tekanan datang dari beberapa arah dan hubungan antarbagian pertahanan mulai terputus, keadaan berubah. Perintah terlambat sampai. Pembawa pesan kehilangan jalur. Barisan yang semula kukuh harus mundur untuk menghindari pengepungan.
Tidak ada kemenangan tanpa kekacauan. Di tengah asap dan teriakan, seorang prajurit dapat kehilangan kelompoknya hanya karena berbelok di persimpangan yang salah. Orang-orang yang terluka dibawa menjauh dari garis benturan. Mereka yang masih mampu bertarung berusaha mencari pemimpin mereka. Tanah yang sehari sebelumnya dilalui pedagang dan petani kini dipenuhi jejak kaki, dan genangan darah yang mengalir di parit-parit pertahanan menuju sungai, pecahan perlengkapan, dan benda-benda yang ditinggalkan dalam kepanikan. SEBAGIAN PENGIKUT Khakian KUBANG BERMIGRASI ke arah SELATAN DAN ADA PULA yang MENUJU UTARA Kelak, yang bermigrasi ke arah utara membentuk komunitas sendiri, dan yang ke arah selatan pun demikian.
Paksi Pak terus menekan. Mereka tidak hanya mengandalkan keberanian, melainkan koordinasi antara pemimpin dan kelompok pasukan. Satu bagian menahan, bagian lain bergerak; satu sisi membuat lawan mengerahkan kekuatan, sisi lain mencari celah. Perang yang panjang itu akhirnya menggoyahkan pertahanan Ranau.
Jepara menjadi salah satu wilayah pertama yang dikuasai Paksi Pak. Kabar jatuhnya wilayah itu menyebar cepat dan memukul semangat para pembela. Sebagian pasukan mundur ke utara, berharap dapat menyusun kembali pertahanan. Sebagian lain terpencar dan kehilangan hubungan dengan kelompok utama.
Bagi Kenui Sakti, kemenangan di Jepara menandai pintu yang terbuka. Namun, ia tahu bahwa satu wilayah yang jatuh tidak berarti seluruh perang telah selesai. Selama lawan masih memiliki tempat berlindung, dukungan, dan alasan untuk melawan, perang dapat menyala kembali.
GUA KHAKIAN KUBANG
Dalam kekacauan setelah pertahanan terpecah, sekelompok kecil orang terpisah dari pasukan utama. Mereka bergerak ke utara, mencari tempat yang dapat menyembunyikan mereka dari pengejaran. Persediaan menipis. Sebagian terluka. Mereka tidak lagi mampu bertahan sebagai pasukan yang teratur, tetapi juga tidak berani menyerahkan diri tanpa mengetahui nasib keluarga mereka.
Mereka akhirnya berlindung di sebuah gua yang kemudian dikenal dalam kisah sebagai Gua Khakian Kubang. Di dalamnya, udara lembap dan gelap. Cahaya dari mulut gua hanya menjangkau sebagian ruang. Setiap suara dari luar membuat mereka terdiam, mendengarkan apakah langkah yang terdengar adalah kawan atau pengejar.
“Berapa lama kita bisa bertahan di sini?” bisik seorang lelaki.
“Tidak lama bila makanan habis,” jawab yang lain. “Tetapi keluar sekarang sama saja menyerahkan leher.”
Seorang yang lebih tua menatap mereka. “Kita harus memikirkan orang-orang di luar gua. Perang ini tidak hanya menyangkut kita. Bila kita terus bertempur tanpa kemungkinan menang, keluarga kita yang akan menanggung akibatnya.”
Mereka tidak sepakat dengan mudah. Bagi sebagian, menyerah berarti kehilangan kehormatan. Bagi yang lain, bertahan sampai mati tidak lagi memberi manfaat kepada siapa pun. Perdebatan itu berlangsung dalam gelap, jauh dari sorak kemenangan dan jauh pula dari pusat keputusan para pemimpin.
Sementara itu, kekuasaan di Ranau mulai berpindah. Namun, keberadaan kelompok yang terisolasi menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu mengakhiri perlawanan pada hari yang sama. Ada orang yang terus bertahan karena takut, karena kesetiaan, atau karena mereka tidak tahu bagaimana cara menghentikan perang tanpa mengkhianati semua yang telah mereka bela.
POHON YANG DITEBANG, INGATAN YANG TINGGAL
Setelah Paksi Pak menguasai wilayah-wilayah penting, perubahan terhadap lambang dan tempat yang berkaitan dengan kepercayaan lama mulai terjadi. Kayu Hakha ditebang karena oleh sebagian pihak pohon itu dipandang berhubungan dengan keyakinan terdahulu. Tempat pemujaan kuil Hindu di Jepara dihancurkan. Perubahan itu menandai bahwa kemenangan bukan hanya pergantian pemimpin, melainkan juga usaha menata ulang makna yang hidup di tengah masyarakat.
Bagi orang yang mendukung perubahan, tindakan itu mungkin dianggap sebagai penegasan tatanan baru. Bagi keluarga yang telah lama menghormati Kayu Hakha. Bahkan para penyerang yang berasal dari Padang Ratu itu sendiri, penebangan itu terasa seperti hilangnya bagian dari dunia yang mereka kenal. mungkin sejatinya mereka baru berpindah keyakinan; sisa-sisa keyakinan lama masih tersisa di hati mereka. Mereka tidak selalu menentang keyakinan baru, tetapi mereka berduka karena sesuatu yang diwariskan telah dirusak.
Seorang lelaki tua berdiri di dekat tempat pohon itu pernah tumbuh. Ia tidak mengangkat senjata. Ia hanya menyentuh tanah dengan ujung jari, lalu mengusapnya pada kain di pinggangnya.
“Pohon itu sudah tidak ada,” kata seorang pemuda di sampingnya.
“Batangnya tidak ada,” jawab si tua. “Tetapi kita masih ingat di mana ia berdiri. Jangan jadikan ingatan itu alasan untuk membenci anak-anak kita sendiri. Dan jangan pula mengira bahwa menerima masa depan berarti harus mengutuk semua yang datang dari masa lalu.”
Bahkan setelah memeluk Islam, sebagian keluarga tetap memandang Kayu Hakha sebagai sesuatu yang istimewa—bukan selalu sebagai objek pemujaan, melainkan sebagai bagian dari ingatan, kegunaan, dan warisan keluarga. Di sinilah perubahan tidak pernah berjalan lurus. Kepercayaan, adat, dan kebiasaan dapat bergeser dengan cara yang berbeda di setiap rumah.
Perang dapat memaksa suatu lambang hilang dari ruang terbuka. Namun, ia tidak selalu mampu menghapus makna yang tersimpan dalam cerita keluarga.
DAMAI DI DEPAN GUA
Kelompok yang berlindung di Gua Khakian Kubang semakin kehabisan pilihan. Mereka mengetahui bahwa pusat-pusat kuasa telah jatuh dan bahwa tidak ada bala bantuan yang datang. Mereka juga mendengar kabar tentang keluarga-keluarga yang mulai kembali ke rumah, tentang aturan baru yang diumumkan, dan tentang pemimpin yang berusaha menegakkan ketertiban setelah perang.
Akhirnya, mereka membuka jalan untuk berunding. Mereka bersedia meletakkan senjata dengan syarat keselamatan mereka dan keluarga diperhatikan. Pihak Paksi Pak mengajukan ketentuan: mereka harus menghentikan perlawanan, menghormati hukum yang berlaku, dan menjaga perdamaian. Kesepakatan itu tidak mengembalikan kekuasaan lama, tetapi memberi jalan agar orang-orang yang tersisa dapat kembali menjalani kehidupan.
Perundingan itu bukan adegan kemenangan yang gemilang. Tidak ada sorak yang perlu dibunyikan. Yang ada adalah orang-orang letih yang menimbang apakah mereka masih dapat mempercayai kata-kata setelah begitu banyak kata sebelumnya berakhir dengan senjata.
“Jika kami menyerahkan senjata, apakah kami masih boleh tinggal di tanah ini?” tanya salah seorang dari kelompok gua.
Jawaban yang diberikan menekankan syarat hidup bersama: hentikan perlawanan, hormati aturan, dan jangan membuka permusuhan baru. Bagi orang-orang yang selama ini bertahan dalam gelap, kesepakatan itu menjadi jalan keluar dari perang yang tidak lagi dapat mereka menangkan.
Dalam perkembangan tradisi, kelompok kecil itu kemudian dikaitkan dengan berdirinya Suka Marga. Mereka tidak lagi menjadi pasukan yang bertahan di gua, melainkan komunitas yang berusaha membangun kehidupan di bawah tatanan baru. Perubahan itu tidak berarti semua luka hilang. Namun, senjata yang diletakkan memberi kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk hidup tanpa terus mengulang perang yang sama.
JEPARA DAN PUSAT KUASA BARU
Setelah pertempuran mereda, para pemimpin Paksi Pak menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan pedang: di mana pusat kuasa baru akan didirikan, dan bagaimana wilayah yang telah ditaklukkan harus ditata? Menguasai tanah berbeda dengan memerintahnya. Pasukan dapat mengambil sebuah tempat, tetapi hanya keputusan yang diterima—atau setidaknya dipatuhi—yang dapat membuat pemerintahan bertahan.
Jepakha muncul sebagai pusat kuasa baru, berkaitan erat dengan Jepara dalam ingatan kronik. Keputusan itu tidak diterima tanpa keberatan. Sebagian orang menginginkan Padang Ratu tetap menjadi pusat, sebab tempat itu menyimpan kedudukan lama dan simbol yang kuat. Bahkan di lingkungan Kenui Sakti sendiri, ada yang kecewa karena pusat baru tidak diletakkan di tempat yang mereka anggap paling layak.
Dalam pertemuan para pemimpin, keberatan itu disampaikan dengan hati-hati.
“Padang Ratu adalah nama yang hidup dalam ingatan,” kata seorang tokoh. “Bila kita tidak kembali menjadikannya pusat, apakah kita tidak sedang meninggalkan tujuan yang sejak awal kita bawa?”
Kenui Sakti tidak menepis pertanyaan itu. “Kita kembali bukan hanya untuk berdiri di atas tanah yang pernah hilang. Kita kembali untuk membangun tatanan yang dapat bertahan. Pusat kuasa harus dipilih dengan mempertimbangkan keadaan sekarang, bukan hanya luka masa lalu.”
“Tetapi orang akan berkata kita telah melupakan Padang Ratu.”
“Biarkan mereka mengingatnya,” jawab Kenui Sakti. “Aku tidak meminta siapa pun menghapus nama itu. Namun, mengingat tempat asal tidak berarti kita harus menjadikan setiap keputusan sebagai usaha membalas masa lampau.”
Keputusan menetapkan Jepakha sebagai pusat kuasa tetap dijalankan. Bagi sebagian orang, itu langkah yang masuk akal. Bagi yang lain dan beberapa bangsawan yang berperang, itu menjadi kekecewaan yang tidak sepenuhnya hilang. Sekali lagi, kemenangan tidak membuat semua orang sepakat. Ia hanya memberi satu pihak kekuatan untuk mengambil keputusan, sementara pihak lain harus belajar hidup dengan hasilnya.
SETELAH GENDERANG DIAM
Sesudah perang, Ranau tidak serta-merta menjadi tempat yang tenteram. Ladang harus ditanami kembali. Rumah-rumah yang rusak perlu diperbaiki. Keluarga mencari anggota yang terpisah. Orang-orang yang kehilangan kerabat belajar menjalani hari tanpa suara yang dulu mereka kenal. Para pemimpin harus menahan pengikutnya agar kemenangan tidak berubah menjadi pembalasan terhadap siapa pun yang dianggap pernah berada di pihak lawan.
Di pasar dan di jalan, orang mulai bertemu lagi. Pada awalnya, percakapan mereka pendek. Nama-nama yang pernah disebut dengan kebencian diucapkan dengan hati-hati. Ada yang masih menyimpan dendam. Ada yang memilih diam. Ada pula yang menyadari bahwa mereka tidak dapat terus hidup hanya dengan memelihara daftar kesalahan leluhur.
Kenui Sakti memahami bahwa peperangan besar telah mengubah kedudukan para pemimpin, tetapi tidak dapat memerintahkan hati setiap orang untuk berubah seketika. Ia juga mengetahui bahwa generasi mendatang akan mewarisi dua hal sekaligus: kisah keberanian dan kisah kehilangan. Cara mereka menceritakan perang akan menentukan apakah ingatan itu menjadi pelajaran atau bara. Dan dia menugaskan salah satu keturunannya, yaitu Halimawong Andak, sebagai penguasa baru di Tanah Ranau
Di tempat Kayu Hakha pernah berdiri, orang masih dapat menunjuk tanah dan berkata bahwa di sanalah pohon itu tumbuh. Di Padang Ratu, nama masa lalu tetap hidup. Di Batu Bekhak, kisah pengasingan terus diceritakan. Di Gua Khakian Kubang, ingatan tentang kelompok yang bertahan menjadi pengingat bahwa bahkan pihak yang kalah tetap memiliki pilihan untuk menghentikan kekerasan.
Tidak semua orang memperoleh apa yang mereka inginkan. Sebagian kehilangan kuasa. Sebagian kehilangan tempat suci. Sebagian memperoleh kedudukan baru, tetapi harus memikul tanggung jawab atas orang-orang yang dahulu mereka lawan. Sejarah tidak membagikan kemenangan dan penderitaan secara merata.
TANAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN
Bertahun-tahun kemudian, kisah itu kembali diceritakan. Nama Khakian Muwak dan Khakian Sangkan disebut sebagai dua saudara yang menempuh jalan berbeda. Khakian Kubang dikenang sebagai pemimpin persekutuan sembilan kepala jungku yang mengguncang Padang Ratu dan membawa perubahan tatanan. Dari garis keturunan yang terpisah itu, nama Ratu Halimawong dan Kenui Sakti muncul dalam kisah tentang keyakinan, kuasa, dan perang. Hanuang Mapas, Tenom Pulan, dan Liman Sekelik diingat sebagai bagian dari Empat Paksi. Ratu Wewah dikenang karena persekutuannya melawan Ratu Halimawong.
Guntokh Bulan Bakha menjadi nama bagi perang yang mengubah Ranau. Jepara menjadi salah satu wilayah awal yang jatuh. Gua Khakian Kubang menyimpan kisah kelompok yang terisolasi, yang akhirnya meletakkan senjata dan dikaitkan dengan berdirinya Suka Marga. Kayu Hakha dan tempat pemujaan di Jepara mengingatkan bahwa kemenangan politik sering diikuti perubahan terhadap lambang dan kepercayaan. Jepakha menjadi pusat kuasa baru, sementara keinginan sebagian orang untuk mempertahankan Padang Ratu sebagai pusat tidak sepenuhnya lenyap.
Semua nama itu tidak harus dibaca sebagai kisah yang sederhana—pahlawan di satu sisi dan penjahat di sisi lain. Setiap kelompok bergerak dengan ingatan, kepentingan, ketakutan, dan keyakinannya sendiri. Memahami alasan mereka tidak berarti membenarkan semua tindakan. Demikian pula, mengingat penderitaan pihak yang kalah tidak mengharuskan kita menolak seluruh perubahan yang lahir sesudahnya.
Tradisi lisan dapat menyimpan kebenaran penting sekaligus memperlihatkan perbedaan antarpenutur. Karena itu, kisah ini perlu terus dibandingkan dengan sumber lain, ditanyakan kembali kepada para tetua, dan diperiksa nama serta urutannya tanpa memaksa semua versi menjadi satu suara. Menghormati cerita leluhur berarti menjaga agar ia tidak dibungkam, tetapi juga tidak mengubah dugaan menjadi kepastian.
Di bawah Gunung Pesagi, tanah tetap menyimpan jejak yang tidak selalu terlihat. Danau tetap memantulkan langit. Jalan-jalan berubah, pusat kuasa berganti, dan keturunan tumbuh dengan bahasa serta harapan mereka sendiri. Namun, sumpah yang paling berguna bukanlah sumpah untuk membalas luka selamanya. Sumpah yang lebih berat adalah menjaga agar tanah leluhur tidak dilupakan—dan agar anak cucu tidak dipaksa mengulangi perang yang sama hanya demi membuktikan bahwa mereka masih ingat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar